Mengandalkan Allah

Jumat, 28 Januari 2022

Baca: Yeremia 17:5-8

17:5 Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!

17:6 Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.

17:7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

17:8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! —Yeremia 17:7

Seharusnya sang bayi baru akan lahir enam minggu lagi, tetapi dokter mendiagnosis Whitney menderita kolestasis, penyakit hati yang umum terjadi pada kehamilan. Dengan emosi campur aduk, Whitney dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Di sana ia diberi tahu bayinya akan diinduksi 24 jam mendatang! Di bagian lain rumah sakit itu, ventilator dan peralatan lain yang dibutuhkan oleh para penderita COVID-19 sedang disiapkan. Akibatnya, Whitney harus dipulangkan. Ia pun memutuskan untuk bersandar kepada Allah dan rencana-Nya, dan syukurlah, akhirnya ia melahirkan bayi yang sehat beberapa hari kemudian.

Firman Tuhan yang mengakar dalam diri kita akan mengubah cara kita menanggapi situasi-situasi sulit. Nabi Yeremia hidup pada masa ketika kebanyakan orang mengandalkan sesamanya sebagai sekutu, dan penyembahan berhala menjadi perbuatan yang lazim. Sang nabi membandingkan “orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan” (Yer. 17:5) dengan mereka yang bersandar kepada Allah. “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air . . . yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau” (ay.7-8).

Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hidup dengan beriman dan berpaling kepada-Nya untuk mendapatkan jalan keluar. Kita bisa memilih untuk dikuasai rasa takut, atau sebaliknya, mempercayai-Nya karena Dia memberi kita kekuatan yang kita butuhkan. Allah berfirman bahwa kita diberkati—terpuaskan sepenuhnya—ketika kita memilih mengandalkan Dia. —Regie Keller

WAWASAN

Mengandalkan Allah

Pernahkah kamu merasa khawatir atau takut, tetapi kemudian diingatkan akan janji Allah yang akan memberkati mereka yang mengandalkan Dia? Bagaimana kesadaran bahwa kamu dapat mengandalkan Allah dalam segala keadaan membawa kelegaan?

Ya Allah, terima kasih aku dapat mengandalkan-Mu dalam segala situasi dan datang kepada-Mu dalam doa. Engkau selalu hadir di tengah pergumulanku dan memberiku kekuatan.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 19–20; Matius 18:21-35

Tidak Menaruh Dendam

Kamis, 27 Januari 2022

Baca: Roma 12:12-21

12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

12:13 Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!

12:14 Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!

12:15 Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!

12:16 Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!

12:17 Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!

12:18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!

12:19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.

12:20 Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.

12:21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah Tuhan. —Imamat 19:18

Dalam suatu acara promosi tahun 2011, dua mantan atlet Liga Sepak Bola Kanada berumur 73 tahun terlibat dalam perkelahian di atas panggung. Keduanya masih menyimpan dendam yang belum tuntas dari pertandingan yang berakhir kontroversial pada tahun 1963. Setelah salah satu dari mereka menjatuhkan lawannya dari atas panggung, penonton berteriak agar ia menyudahi perkelahian dan segera berdamai.

Ada banyak contoh orang yang mendendam dalam Alkitab. Kain menaruh dendam terhadap adiknya, Habel, karena Allah mengindahkan korban persembahan Habel tetapi korban persembahannya tidak (Kej. 4:4-5). Dendam ini begitu parah sampai “Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia” (ay.8). “Esau menaruh dendam kepada Yakub” karena Yakub mencuri berkat kesulungan yang menjadi haknya (27:41). Dendamnya demikian hebat sehingga Yakub ketakutan dan melarikan diri.

Alkitab tidak hanya memberi contoh orang-orang yang mendendam, tetapi juga mengajarkan cara menyudahi perselisihan—dengan memberi maaf dan mengusahakan perdamaian. Allah memanggil kita untuk mengasihi sesama (Im. 19:18), mendoakan dan mengampuni mereka yang merugikan serta menganiaya kita (Mat. 5:43-47), hidup dalam perdamaian dengan semua orang, menyerahkan pembalasan ke tangan Allah, dan mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (Rm. 12:18-21). Dengan kuasa Allah, kiranya kita dapat menyudahi perselisihan kita hari ini. —Marvin Williams

WAWASAN

Tidak Menaruh Dendam

Mengapa penting bagi kita untuk tidak menaruh dendam? Bagaimana kamu akan berusaha memperbaiki hubungan kamu yang retak atau rusak minggu ini?

Tuhan Yesus, terima kasih karena aku dapat mengampuni sesama karena Engkau telah mengampuni aku.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 16–18; Matius 18:1-20

Kesenangan Sejati

Rabu, 26 Januari 2022

Baca: Pengkhotbah 3:9-14

3:9 Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?

3:10 Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.

3:11 Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

3:12 Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka.

3:13 Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.

3:14 Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.

Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka. —Pengkhotbah 3:12

Abd al-Rahman III adalah penguasa Kordoba, Spanyol, pada abad ke-10. Sesudah lima puluh tahun berkuasa dengan sukses (ia mengaku dicintai rakyatnya, ditakuti musuhnya, dan dihormati sekutunya), al-Rahman berusaha merenungkan kembali hidupnya. “Kekayaan dan kehormatan, kekuasaan dan kesenangan, telah menjadi bagian hidupku,” ucap al-Rahman tentang hak-hak istimewa yang dimilikinya. Namun, ketika ia menghitung berapa hari ia sungguh-sungguh merasa bahagia, jumlahnya hanya empat belas. Betapa menyedihkannya.

Penulis kitab Pengkhotbah juga seorang yang kaya dan dihormati (Pkh. 2:7-9), penuh kuasa dan kesenangan (1:12; 2:1-3). Ketika ia merenungkan hidupnya, hasilnya juga menyedihkan. Ia menyadari kekayaan tidak mendatangkan rasa puas (5:10-11), kesenangan hanya memberi kegirangan sementara (2:1-2), dan kesuksesan mungkin lebih disebabkan oleh keberuntungan daripada kemampuan (9:11). Meski demikian, akhir perenungannya tidaklah semuram perenungan al-Rahman. Karena sumber utama kesenangannya adalah iman kepada Allah, maka ia melihat bahwa makan, bekerja, dan berbuat kebaikan dapat dinikmati ketika semua itu dilakukan bersama Dia (2:25; 3:12-13).

“Wahai manusia, jangan mempercayakan dirimu pada dunia ini!” ujar al-Rahman mengakhiri perenungannya. Penulis kitab Pengkhotbah pasti setuju dengannya. Karena kita diciptakan bagi kekekalan (3:11), kenikmatan dan pencapaian duniawi tidak akan pernah memberikan kepuasan. Namun, dengan kehadiran Allah dalam hidup kita, kesenangan sejati dapat kita nikmati dalam hal-hal sederhana seperti makan, bekerja, dan hidup sehari-hari. —Sheridan Voysey

WAWASAN

Kesenangan Sejati

Apa yang kamu cari jika ingin merasakan kesenangan? Bagaimana kamu dapat makan, bekerja, dan melakukan kebaikan bersama Allah hari ini?

Bapa Surgawi, hari ini aku akan melakukan segala sesuatu bersama Engkau di sisiku.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 14–15; Matius 17

Mengasihi Allah

Selasa, 25 Januari 2022

Baca: 1 Yohanes 4:10-21

4:10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.

4:11 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.

4:12 Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.

4:13 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya.

4:14 Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.

4:15 Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.

4:16 Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.

4:17 Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.

4:18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

4:19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.

4:20 Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.

4:21 Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.

Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. —1 Yohanes 4:16

Seorang dosen selalu mengakhiri kelas virtualnya dengan berkata, “Sampai jumpa” atau “Selamat menikmati akhir pekan.” Beberapa mahasiswa membalasnya dengan, “Terima kasih. kamu juga!” Namun, suatu hari seorang mahasiswa menyahuti, “Aku mengasihimu.” Meski terkejut, sang dosen membalas, “Aku mengasihimu juga!” Sore itu, semua mahasiswa di kelasnya sepakat menciptakan “rantai kasih sayang” pada pertemuan berikutnya. Mereka ingin mengapresiasi sang dosen yang sebenarnya lebih suka bertatap muka tetapi masih bersedia mengajar secara virtual. Beberapa hari kemudian, selesai mengajar, ketika dosen itu berkata, “Sampai jumpa,” satu per satu mahasiswanya menjawab, “Aku mengasihimu.” Berbulan-bulan mereka melakukan kebiasaan tersebut. Sang dosen berkata bahwa kebiasaan itu menciptakan ikatan yang kuat antara dirinya dan para murid, sehingga sekarang ia merasa mereka adalah “satu keluarga”.

Dalam 1 Yohanes 4:10-21, sebagai anggota keluarga Allah, kita mempunyai sejumlah alasan untuk mengucapkan, “Aku mengasihi-Mu” kepada Allah. Allah “telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (ay.10). Dia mengaruniakan Roh-Nya untuk tinggal di dalam kita (ay.13,15). Kasih-Nya selalu dapat diandalkan (ay.16), dan kita tidak perlu takut terhadap penghakiman (ay.17). Allah memampukan kita untuk mengasihi Dia dan sesama “karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (ay.19).

Saat kamu bersekutu dengan saudara-saudari seiman, ambillah kesempatan untuk menceritakan alasan kamu mengasihi Allah. Menciptakan rantai “Aku mengasihi-Mu” untuk Allah akan memuliakan-Nya sekaligus mempererat persekutuan kamu dengan umat-Nya. —Anne Cetas

WAWASAN

Mengasihi Allah

Mengapa kamu mengasihi Allah? Bagaimana kamu dapat menunjukkan kasih-Nya kepada sesama?

Ya Bapa, aku bersyukur dapat mengenal kasih-Mu dan menjadi salah seorang anggota keluarga-Mu. Mampukan aku menempuh cara-cara kreatif untuk mengekspresikan kasih-Mu itu.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 12–13; Matius 16

Pelarik Tukang Periuk

Senin, 24 Januari 2022

Baca: Yeremia 18:1-6

18:1 Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, bunyinya:

18:2 "Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataan-Ku kepadamu."

18:3 Lalu pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan.

18:4 Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.

18:5 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, bunyinya:

18:6 "Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!

Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. —Yeremia 18:4

Pada tahun 1952 di Pantai Miami, pemilik sebuah toko menempelkan peringatan yang berbunyi “Pecah berarti membeli” untuk mencegah orang-orang ceroboh memecahkan barang di tokonya. Sekarang tulisan peringatan sejenis dapat dijumpai di berbagai toko.

Ironisnya, bunyi peringatan di rumah tukang periuk sangat berbeda: “Pecah akan kami ganti menjadi lebih baik.” Itulah yang dinyatakan dalam Yeremia 18.

Yeremia mengunjungi rumah seorang tukang periuk dan melihat si tukang membentuk ulang tanah liat yang “rusak” dengan hati-hati menjadi “bejana lain” (ay.4). Nabi Yeremia mengingatkan kita bahwa Allah adalah Tukang periuk yang piawai, dan kita tanah liatnya. Dia berdaulat dan sanggup memakai apa yang diciptakan-Nya untuk menghancurkan kejahatan sekaligus menciptakan keindahan di dalam kita.

Allah dapat membentuk kita sekalipun kita rusak atau hancur. Dialah Tukang periuk yang ulung, yang sanggup dan mau menciptakan bejana baru dan berharga dari kepingan diri kita yang hancur. Allah tidak menganggap kehidupan lama, kesalahan, dan dosa masa lalu kita sebagai bahan yang tak dapat dipakai kembali. Dia memungut kepingan-kepingan hidup kita dan membentuknya kembali menurut rancangan yang terbaik di mata-Nya.

Sekalipun hancur, kita tetap dipandang berharga oleh Sang Tukang periuk agung. Dengan tangan-Nya, pecahan dan kepingan hidup kita dapat dibentuk kembali menjadi bejana indah yang dapat dipakai-Nya (ay.4). —Katara Patton

WAWASAN

Pelarik Tukang Periuk

Penghiburan apa yang kamu dapatkan ketika mengetahui Allah adalah Tukang periuk yang dapat menciptakan sesuatu yang baru dari serpihan hidup kamu? Bagaimana kamu bisa tenang ketika Tukang periuk itu membentuk kamu menjadi bejana yang indah?

Ya Allah, Engkaulah Tukang periuk agung dan aku tanah liatnya. Bentuklah aku seturut kehendak-Mu. Ingatkan aku bahwa aku ada dalam tangan-Mu yang piawai dan penuh kasih.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 9–11; Matius 15:21-39

Inilah Kasih Karunia

Minggu, 23 Januari 2022

Baca: Kisah Para Rasul 2:32-41

2:32 Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.

2:33 Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini.

2:34 Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku:

2:35 Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.

2:36 Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus."

2:37 Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: "Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?"

2:38 Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.

2:39 Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita."

2:40 Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: "Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini."

2:41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.

Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus. — Kisah Para Rasul 2:36

Kisah Les Misérables dibuka dengan adegan Jean Valjean, narapidana yang bebas bersyarat, mencuri benda-benda perak milik seorang pastor. Ia tertangkap dan mengira dirinya akan dijebloskan kembali ke penjara. Namun, sang pastor mengagetkan semua orang dengan berkata bahwa ia sudah memberikan benda-benda berharga itu kepada Valjean. Setelah polisi pergi, ia berpaling kepada si pencuri, “Sekarang kamu bukan lagi milik kejahatan, tetapi milik kebaikan.”

Kasih yang begitu murah hati ini merujuk kepada kasih yang mengalir dari sumber segala kasih karunia. Pada hari Pentakosta, Petrus memberitahukan kepada semua orang yang mendengarkannya bahwa kurang dari dua bulan sebelumnya, di kota itu juga, mereka telah menyalibkan Yesus. Orang-orang itu merasa terharu lalu bertanya apa yang harus mereka lakukan. Petrus menjawab, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu” (Kis. 2:38). Yesus telah menanggung hukuman yang selayaknya mereka terima. Sekarang hukuman mereka akan dihapuskan jika mereka percaya kepada-Nya.

Sungguh ironis kasih karunia itu. Manusia hanya dapat diampuni oleh kematian Kristus, yang disebabkan oleh manusia sendiri. Betapa luar biasanya kasih karunia dan kuasa Allah! Dia menggunakan dosa terbesar manusia untuk menggenapi keselamatan kita. Jika dosa menyalibkan Yesus saja dipakai Allah untuk maksud agung tersebut, kita boleh meyakini bahwa tidak ada yang tak sanggup diubah-Nya menjadi sesuatu yang baik. Percayalah kepada Dia yang “turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Rm. 8:28). —Mike Wittmer

WAWASAN

Inilah Kasih Karunia

Sudahkah kamu menyerahkan diri kepada Yesus? Jika belum, apa yang menghalangi kamu? Jika sudah, apa artinya bagi kamu untuk menyerahkan juga semua ketakutan kamu kepada-Nya?

Bapa terkasih, terima kasih untuk limpah ruah kasih-Mu yang menyelamatkanku dari dosaku. Angkatlah semua ketakutanku dan tolong aku sungguh-sungguh mempercayai-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 7–8; Matius 15:1-20

Bersembunyi dari Allah

Sabtu, 22 Januari 2022

Baca: Kejadian 3:1-10

3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"

3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,

3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."

3:4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati,

3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."

3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.

3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

3:8 Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.

3:9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?"

3:10 Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."

Tuhan Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya, “Di manakah engkau?” —Kejadian 3:9

Saya memejamkan mata dan mulai menghitung keras-keras. Teman-teman saya di kelas tiga SD itu bergegas keluar untuk mencari tempat persembunyian. Setelah lama mencari di setiap lemari, peti, dan ruangan, saya belum juga menemukan mereka. Rasanya konyol sekali saat akhirnya ada yang melompat dari balik pot tanaman pakis yang menggantung pada langit-langit. Padahal hanya kepalanya saja yang tertutup pakis, sementara tubuhnya terlihat jelas selama ini!

Karena Allah Mahatahu, ketika Adam dan Hawa “bersembunyi” (Kej. 3:8) dari hadapan-Nya di Taman Eden, mereka tetap saja terlihat jelas. Namun, mereka bukan sedang bermain petak umpet; saat itu mereka tiba-tiba sadar—dan merasa malu—akan kesalahan mereka, karena telah makan buah dari pohon yang sudah dilarang Allah.

Adam dan Hawa berpaling dari Allah dan ketetapan-Nya yang penuh kasih ketika mereka tidak menaati perintah-Nya. Namun, alih-alih marah dan menarik diri, Allah justru mencari mereka, dengan bertanya, “Di manakah engkau?” Ini bukan berarti Allah tidak tahu mereka di mana, melainkan Dia ingin menunjukkan belas kasihan-Nya yang penuh rahmat kepada mereka (ay.9).

Saya tidak berhasil menemukan teman-teman saya yang bersembunyi, tetapi Allah selalu melihat dan mengenal kita—kita selalu terlihat jelas di mata-Nya. Sama seperti Dia mencari Adam dan Hawa, Tuhan Yesus mencari kita “ketika kita masih berdosa” dengan mati di kayu salib demi menunjukkan kasih-Nya kepada kita (Rm. 5:8). Kita tidak lagi perlu bersembunyi. —Kirsten Holmberg

WAWASAN

Bersembunyi dari Allah

Pernahkah kamu mencoba “bersembunyi” dari Allah? Bagaimana Dia telah mencari kamu?

Allah Bapaku, terima kasih Engkau menunjukkan kasih dan kepedulian-Mu kepadaku, meskipun aku telah berdosa kepada-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 4–6; Matius 14:22-36

Memberi Selagi Masih Hidup

Jumat, 21 Januari 2022

Baca: Yohanes 9:1-12

9:1 Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya.

9:2 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"

9:3 Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.

9:4 Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.

9:5 Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia."

9:6 Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi

9:7 dan berkata kepadanya: "Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam." Siloam artinya: "Yang diutus." Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.

9:8 Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata: "Bukankah dia ini, yang selalu mengemis?"

9:9 Ada yang berkata: "Benar, dialah ini." Ada pula yang berkata: "Bukan, tetapi ia serupa dengan dia." Orang itu sendiri berkata: "Benar, akulah itu."

9:10 Kata mereka kepadanya: "Bagaimana matamu menjadi melek?"

9:11 Jawabnya: "Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat."

9:12 Lalu mereka berkata kepadanya: "Di manakah Dia?" Jawabnya: "Aku tidak tahu."

Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang. —Yohanes 9:4

Seorang pengusaha sukses memutuskan untuk membagi-bagikan hartanya dalam beberapa dekade terakhir hidupnya. Sebagai seorang miliuner, ia mendonasikan uang kepada berbagai gerakan sosial, seperti usaha menciptakan perdamaian di Irlandia Utara dan upaya modernisasi sistem perawatan kesehatan di Vietnam. Tak lama sebelum meninggal dunia, ia mendonasikan 350 juta dolar untuk menjadikan Pulau Roosevelt di kota New York sebagai pusat pengembangan teknologi. Beliau berkata, “Saya percaya kita harus memberi selagi masih hidup. Tidak ada alasan untuk menunda-nunda dalam memberi . . . Lagi pula, lebih bahagia memberi selagi masih hidup daripada setelah meninggal.” Memberi selagi masih hidup adalah sikap yang luar biasa.

Dalam tulisan Yohanes tentang orang yang buta sejak lahir, murid-murid Yesus mencoba menentukan “siapakah yang berbuat dosa” (yoh. 9:2). Yesus menjawab persoalan itu dengan berkata, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang” (ay.3-4). Meskipun pekerjaan kita sangat berbeda dari karya mukjizat yang diadakan Tuhan Yesus, bagaimana pun cara kita mempersembahkan diri, kita perlu melakukannya dengan sikap yang siap memberi dan penuh kasih. Baik berupa waktu, kekayaan, maupun tindakan, tujuan kita memberi adalah agar pekerjaan Allah dapat dinyatakan.

Allah memberi karena begitu besar kasih-Nya akan dunia ini. Sebagai balasannya, marilah kita memberi selagi kita masih hidup. —John Blase

WAWASAN

Memberi Selagi Masih Hidup

Pemberian apakah yang selama ini masih kamu tunda-tunda? Bagi kamu, apa artinya memberi selagi masih hidup?

Allah Maha Pemurah, tunjukkanlah kepadaku di mana saja aku dapat memberi pada hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 1–3; Matius 14:1-21

Senang Belajar

Kamis, 20 Januari 2022

Baca: Amsal 1:1-7

1:1 Amsal-amsal Salomo bin Daud, raja Israel,

1:2 untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna,

1:3 untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran,

1:4 untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda–

1:5 baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan–

1:6 untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak.

1:7 Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu. —Amsal 1:5

Ketika ditanya bagaimana awal mulanya ia menjadi wartawan, seorang pria bercerita tentang tekad kuat sang ibu agar ia dapat meneruskan pendidikannya. Setiap kali naik kereta bawah tanah, ibunya mengumpulkan koran yang ditinggalkan oleh para penumpang dan memberikan koran-koran itu kepadanya. Selain menikmati berita olahraga, koran-koran itu juga menyajikan pengetahuan tentang dunia, yang kemudian membuka pikirannya kepada banyak hal baru.

Anak-anak terlahir dengan rasa ingin tahu yang alami dan kesenangan untuk belajar, sehingga sangat penting memperkenalkan Kitab Suci kepada mereka sejak usia dini. Mereka dapat tergugah oleh janji-janji Allah yang luar biasa, juga kisah-kisah memukau tentang tokoh-tokoh Alkitab. Dengan bertambahnya pengetahuan, mereka dapat mulai memahami konsekuensi dosa, perlunya mereka bertobat, dan sukacita yang dialami saat mempercayai Allah. Pasal pertama kitab Amsal, misalnya, adalah pengantar yang sangat baik tentang manfaat hikmat (Ams. 1:1-7). Permata-permata hikmat yang ditemukan akan memberikan pengertian tentang berbagai situasi yang dihadapi dalam kehidupan nyata.

Mengembangkan kesenangan untuk belajar, terutama mengenai kebenaran rohani, akan menolong kita bertumbuh semakin kuat dalam iman. Bahkan mereka yang telah hidup dalam iman selama puluhan tahun dapat terus mengejar pengenalan akan Allah sepanjang hidup mereka. Amsal 1:5 menasihatkan, “Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu.” Allah tidak akan pernah berhenti mengajari kita apabila kita mau membuka hati dan pikiran kita kepada pimpinan dan perintah-Nya. —Cindy Hess Kasper

WAWASAN

Senang Belajar

Kebenaran baru apakah dari Kitab Suci yang kamu peroleh baru-baru ini? Apa yang dapat kamu lakukan untuk dapat terus memperdalam pemahaman kamu akan kebenaran Allah?

Bapa, teruslah membuka pikiran dan hatiku saat aku membaca Kitab Suci agar aku dapat bertumbuh dalam pengetahuan dan hikmat.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 49–50; Matius 13:31-58

Berjaga-jagalah!

Rabu, 19 Januari 2022

Baca: Matius 26:36-46

26:36 Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa."

26:37 Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar,

26:38 lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku."

26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."

26:40 Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?

26:41 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."

26:42 Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"

26:43 Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat.

26:44 Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga.

26:45 Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.

26:46 Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat."

Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah. —Matius 26:41

Seorang pegawai bank di Jerman yang tengah mentransfer 62,40 euro dari bank ke rekening seorang nasabah tanpa sadar tertidur sejenak di mejanya. Ia tertidur dengan jari memencet tombol “2”. Alhasil, 222 juta euro (300 juta dolar) berpindah ke rekening nasabah tersebut. Akibat kesalahan ini, si pegawai dan koleganya yang mengesahkan transfer tersebut ikut dipecat. Kekeliruan ini memang segera diketahui dan dapat diperbaiki, tetapi karena kelalaian pegawai yang mengantuk tadi, kesalahan kecil itu nyaris menjadi mimpi buruk bagi bank tersebut.

Yesus memperingatkan murid-murid-Nya bahwa apabila tidak berjaga-jaga, mereka juga dapat membuat kesalahan besar. Dia membawa mereka ke Taman Getsemani untuk mengambil waktu berdoa. Saat berdoa, Yesus mengalami dukacita dan kesedihan yang tak pernah dirasakan-Nya semasa hidup di dunia. Dia meminta Petrus, Yakobus, dan Yohanes untuk berdoa dan “berjaga-jaga” dengan-Nya (Mat. 26:38), tetapi mereka malah tertidur (ay.40-41). Kegagalan mereka untuk berjaga-jaga dan berdoa menjadikan mereka tidak berdaya ketika datang pencobaan untuk menyangkal Dia. Saat Yesus paling membutuhkan mereka, para murid justru tidak memiliki kewaspadaan rohani.

Kiranya kita mendengarkan perkataan Yesus untuk tetap berjaga-jaga secara rohani dengan semakin setia meluangkan waktu bersama-Nya di dalam doa. Saat kita melakukannya, Dia akan menguatkan kita untuk melawan segala bentuk pencobaan dan terhindar dari kesalahan besar dengan menyangkal Yesus. —Marvin Williams

WAWASAN

Berjaga-jagalah!

Dalam hal apa kehidupan doa kamu membutuhkan lebih banyak kesetiaan dan kedisiplinan? Bagaimana kamu dapat dengan sengaja mengambil lebih banyak waktu bersama Allah minggu ini?

Tuhan Yesus, karena kerohanianku tertidur, aku tidak lagi berdoa. Dan karena aku tidak berdoa, aku gagal mengandalkan Engkau. Ampuni aku. Tolong aku untuk meluangkan lebih banyak waktu bersama-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 46–48; Matius 13:1-30