Anugerah Kasih yang Terbesar

Selasa, 18 Januari 2022

Baca: Yesaya 53:1-6

53:1 Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan?

53:2 Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.

53:3 Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.

53:4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

53:5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

53:6 Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri. —Yesaya 53:6

Ketika meninggalkan toko, putra saya, Geoff, melihat sebuah alat bantu jalan tergeletak tak bertuan di jalan. Semoga tidak ada yang kenapa-kenapa, pikirnya. Ia memeriksa ke balik bangunan dan melihat seorang pria tunawisma terkapar tidak sadarkan diri.

Geoff membangunkan pria itu dan bertanya apakah ia baik-baik saja. “Aku mencoba bunuh diri dengan minum alkohol,” katanya. “Tendaku rusak dihantam badai dan aku kehilangan segalanya. Aku tidak ingin hidup lagi.”

Geoff menghubungi sebuah pelayanan rehabilitasi Kristen, dan sambil menunggu datangnya pertolongan, ia pulang sebentar untuk mengambil tenda miliknya. “Siapa nama Bapak?” tanyanya. “Geoffrey,” jawab si tunawisma, “dengan G.” Geoff sendiri tidak memberitahu namanya atau ejaan namanya yang tidak lazim. “Ayah,” katanya kepada saya kemudian, “bisa saja pria itu aku.”

Geoff juga pernah bergumul dengan ketergantungan obat terlarang, dan ia menolong pria itu karena kasih yang telah diterimanya dari Allah. Nabi Yesaya menggunakan kata-kata berikut untuk menyambut belas kasihan Allah kepada kita dalam Yesus Kristus. “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (Yes. 53:6).

Kristus, Juruselamat kita, tidak membiarkan kita tersesat, sendirian, dan tak berdaya dalam keputusasaan. Dia memilih menjadi serupa dengan kita dan mengangkat kita dalam kasih, agar kita terbebas dan dapat menjalani hidup baru di dalam Dia. Sungguh, itulah anugerah terbesar yang pernah ada. —James Banks

WAWASAN

Anugerah Kasih yang Terbesar

Akan seperti apa keadaan kamu tanpa Yesus? Apa yang dapat kamu lakukan untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya bagi sesama yang membutuhkan?

Tuhan Yesus, terima kasih Engkau telah datang menyelamatkanku. Tolong aku untuk ikut serta dalam misi penyelamatan-Mu dan membagikan kasih-Mu kepada orang yang membutuhkan-Mu hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 43–45; Matius 12:24-50

Berani Menghadapi Badai

Senin, 17 Januari 2022

Baca: Ibrani 12:1-3,12-13

12:1 Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

12:2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

12:3 Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.

12:12 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah;

12:13 dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus . . . supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. —Ibrani 12:2-3

Badai dahsyat melanda Memphis, Tennessee, pada petang 3 April 1968. Karena merasa letih dan kurang enak badan, Pendeta Dr. Martin Luther King Jr. ingin membatalkan pidato dukungannya terhadap unjuk rasa para pekerja kebersihan di sebuah gereja. Namun, ia terkejut saat panggilan telepon menyampaikan bahwa masyarakat dengan berani menembus badai demi mendengar pidatonya. Maka ia pergi ke gereja dan berbicara selama 40 menit, menyampaikan apa yang dianggap sebagian orang sebagai pidato terbaiknya, berjudul “I’ve Been to the Mountaintop” (Aku Sudah Pernah ke Puncak Gunung).

Keesokan harinya, King tewas ditembak. Namun, pidatonya masih menginspirasi mereka yang tertindas dengan harapan akan “tanah perjanjian”. Demikian pula jemaat Tuhan mula-mula juga terinspirasi oleh pesan yang menguatkan. Kitab Ibrani ditulis untuk menyemangati orang-orang Yahudi Kristen yang terancam karena keyakinan mereka kepada Kristus. Kitab ini memberikan dorongan rohani yang tegas agar mereka tidak putus harapan, dengan menyerukan, “Kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah” (12:12). Sebagai orang Yahudi, mereka pasti tahu seruan itu pertama kalinya disampaikan oleh Nabi Yesaya (Yes. 35:3).

Namun, kini sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk “berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. . . . dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (Ibr. 12:1-2). Dengan demikian, kita tidak akan “menjadi lemah dan putus asa” (ay.3).

Badai dan angin keras pasti terjadi dalam hidup ini. Namun, di dalam Yesus, kita akan bertahan dan menang dengan mengandalkan Dia. —Patricia Raybon

WAWASAN

Berani Menghadapi Badai

Bagaimana kamu menanggapi badai rohani dalam hidup kamu? Bagaimana Tuhan Yesus memberi kamu pengharapan saat kamu berpegang kepada Dia dan janji-Nya?

Tuhan Yesus, Engkau menenangkan setiap badai rohani. Ketika badai mengamuk, kirimkanlah kedamaian dalam jiwaku saat aku terus berharap kepada-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 41–42; Matius 12:1-23

Gelap dan Terang

Minggu, 16 Januari 2022

Baca: Yohanes 3:1-2,16-20

3:1 Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi.

3:2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya."

3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

3:17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

3:18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.

3:19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.

3:20 Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;

Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup. —Yohanes 8:12

Di ruang pengadilan, saya menyaksikan beberapa contoh kebobrokan dunia kita saat ini: anak yang terasing dari ibunya; suami-istri yang sudah kehilangan cinta mula-mula dan sekarang saling bermusuhan; suami yang ingin rujuk dengan istri dan berkumpul lagi dengan anak-anaknya. Mereka sangat membutuhkan hati yang diubahkan, luka yang disembuhkan, dan kasih Allah yang membawa kemenangan.

Terkadang saat dunia di sekeliling kita terasa dipenuhi kegelapan dan keputusasaan, mudah bagi kita untuk menyerah juga. Namun, Roh Kudus, yang diam di dalam hati orang percaya (Yoh. 14:17), mengingatkan kita bahwa Yesus mati untuk menebus kehancuran dan kepedihan itu. Ketika Yesus datang ke dunia sebagai manusia, Dia membawa terang ke dalam kegelapan (1:4-5; 8:12). Hal itu dapat kita lihat dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, yang datang kepada Yesus dalam gelap tetapi pulang dengan dipengaruhi Sang Terang (3:1-2; 19:38-40).

Yesus mengajarkan kepada Nikodemus bahwa “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (3:16).

Namun, meskipun Yesus membawa terang dan kasih ke dalam dunia, banyak manusia yang masih tersesat dalam gelapnya dosa mereka (ay.19-20). Jika kita adalah pengikut-pengikut-Nya, kita memiliki terang yang sanggup mengusir kegelapan. Dengan rasa syukur, berdoalah agar Allah memampukan kita menjadi pemancar terang kasih-Nya (Mat. 5:14-16). —Alyson Kieda

WAWASAN

Gelap dan Terang

Bagaimana kesadaran bahwa Allah mengasihi kamu memperbarui pengharapan kamu? Bagaimana kamu dapat membagikan terang kasih Kristus kepada sesama?

Ya Allah, terima kasih Engkau telah datang menyelamatkanku dari gelapnya dosa dan rasa putus asa. Tolong aku terus menetap dalam terang-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 39–40; Matius 11

Kematian yang Menghidupkan

Sabtu, 15 Januari 2022

Baca: Keluaran 12:5-13

12:5 Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing.

12:6 Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja.

12:7 Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya.

12:8 Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit.

12:9 Janganlah kamu memakannya mentah atau direbus dalam air; hanya dipanggang di api, lengkap dengan kepalanya dan betisnya dan isi perutnya.

12:10 Janganlah kamu tinggalkan apa-apa dari daging itu sampai pagi; apa yang tinggal sampai pagi kamu bakarlah habis dengan api.

12:11 Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN.

12:12 Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN.

12:13 Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir.

Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. —Keluaran 12:13

Carl sedang berjuang melawan kanker dan membutuhkan transplantasi pada kedua paru-parunya. Ia memohon agar Allah memberinya paru-paru baru, tetapi merasa aneh dengan doanya sendiri. Ia merasa tidak enak berdoa seperti itu, karena “seseorang harus mati agar aku dapat hidup.”

Dilema yang dihadapi Carl menyoroti kebenaran mendasar Kitab Suci: Allah memakai kematian untuk memberi kehidupan. Kita menyaksikan hal tersebut dalam peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Bangsa yang lahir ke dalam perbudakan itu begitu menderita di bawah penindasan Mesir. Karena Firaun tidak mau melepaskan mereka, Allah sendirilah yang turun tangan. Setiap anak sulung di negeri itu akan mati, kecuali keluarga menyembelih anak domba tak bercacat dan membubuhkan darahnya pada kedua tiang pintu dan ambang atas (Kel. 12:6-7).

Saat ini, kamu dan saya juga dilahirkan dalam perbudakan dosa. Iblis tidak mau melepaskan cengkeramannya atas kita sampai Allah sendiri turun tangan, dengan cara mengorbankan Anak-Nya yang sempurna di kayu salib yang berlumuran darah.

Yesus memanggil kita untuk disalibkan bersama-Nya. Paulus menjelaskan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19-20). Ketika kita menaruh kepercayaan pada Anak Domba Allah yang tidak bercacat cela, kita berkomitmen untuk mati setiap hari bersama-Nya, mati terhadap dosa-dosa kita supaya kita dapat bangkit bersama Dia dalam hidup yang baru (Rm. 6:4-5). Kita menunjukkan iman kita setiap kali mengatakan “tidak” kepada belenggu dosa, dan mengatakan “ya” kepada kebebasan yang diberikan Kristus. Kita sungguh hidup ketika kita mati bersama-Nya. —Mike Wittmer

WAWASAN

Kematian yang Menghidupkan

Mengapa kematian menjadi satu-satunya jalan menuju hidup? Bagaimana cara kamu menunjukkan bahwa kamu telah menerima kematian Yesus bagi diri kamu?

Tuhan Yesus, kematian-Mu menghidupkanku. Tolonglah aku untuk mati terhadap dosa hari ini dan menjalani hidupku dengan kuasa-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 36–38; Matius 10:21-42

Melakukan Firman

Jumat, 14 Januari 2022

Baca: Yakobus 1:19-27

1:19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;

1:20 sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.

1:21 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.

1:22 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.

1:23 Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.

1:24 Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.

1:25 Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

1:26 Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.

1:27 Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.

Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. —Yakobus 1:22

Saya mulai membacakan Alkitab kepada putra-putra saya ketika si bungsu, Xavier, masuk TK. Saya menggunakan momen-momen tertentu untuk mengajarnya, membahas ayat-ayat yang dapat diterapkan pada kondisi kami, lalu mengajak mereka berdoa bersama. Xavier menghafal ayat-ayat Alkitab dengan sangat mudah. Manakala kami menghadapi kesulitan yang membutuhkan hikmat, ia akan mengucapkan ayat-ayat yang menyatakan kebenaran Allah.

Suatu hari, saya marah dan ia sempat mendengar kata-kata saya yang kasar. Mendengar itu, Xavier memeluk saya dan berkata, “Lakukan firman yang Mama ajarkan, ya.”

Ucapan Xavier yang lembut itu mengingatkan saya pada nasihat bijak Rasul Yakobus saat berbicara kepada orang-orang Yahudi Kristen yang tersebar di berbagai wilayah (Yak. 1:1). Setelah menyoroti bagaimana dosa dapat menghalangi kesaksian kita bagi Kristus, Yakobus mendorong mereka untuk menerima “dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hati [mereka]” (ay.21). Jika kita hanya mendengar firman Tuhan, tetapi tidak melakukannya, kita seumpama orang yang mengamat-amati mukanya di depan cermin tetapi kemudian lupa bagaimana rupanya (ay.23-24). Kita bisa lupa pada hak istimewa yang diberikan kepada kita, makhluk yang segambar dengan Allah dan yang dibenarkan di hadapan-Nya oleh darah Kristus.

Orang percaya diperintahkan untuk memberitakan Injil. Sambil mengubah kita, Roh Kudus memampukan kita menjadi wakil Tuhan yang lebih baik untuk kemudian menjadi pemberita kabar baik. Kerelaan kita untuk taat memancarkan cahaya kebenaran dan kasih Allah di mana pun kita diutus oleh-Nya. Dengan demikian, kita dapat menuntun orang lain kepada Yesus dengan melakukan apa yang kita sendiri ajarkan. —Xochitl Dixon

WAWASAN

Melakukan Firman

Seperti apakah pergumulan kamu dalam menaati firman Tuhan? Bagaimana Allah telah mengubah dan memampukan kamu?

Ya Allah, bentuklah aku semakin serupa diri-Mu, supaya aku dapat memakai setiap kesempatan untuk membagikan kasih-Mu dengan sesama.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 33–35; Matius 10:1-20

Investasi yang Tidak Masuk Akal

Kamis, 13 Januari 2022

Baca: Yeremia 32:6-15

32:6 Berkatalah Yeremia: "Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya:

32:7 Sesungguhnya, Hanameel, anak Salum, pamanmu, akan datang kepadamu dengan usul: Belilah ladangku yang di Anatot itu, sebab engkaulah yang mempunyai hak tebus untuk membelinya.

32:8 Kemudian, sesuai dengan firman TUHAN, datanglah Hanameel, anak pamanku, kepadaku di pelataran penjagaan, dan mengusulkan kepadaku: Belilah ladangku yang di Anatot di daerah Benyamin itu, sebab engkaulah yang mempunyai hak milik dan hak tebus; belilah itu! Maka tahulah aku, bahwa itu adalah firman TUHAN.

32:9 Jadi aku membeli ladang yang di Anatot itu dari Hanameel, anak pamanku, dan menimbang uang baginya: tujuh belas syikal perak.

32:10 Aku menulis surat pembelian, memeteraikannya, memanggil saksi-saksi dan menimbang perak itu dengan neraca.

32:11 Lalu aku mengambil surat pembelian yang berisi syarat dan ketetapan itu, baik yang dimeteraikan maupun salinannya yang terbuka;

32:12 kemudian aku memberikan surat pembelian itu kepada Barukh bin Neria bin Mahseya di depan Hanameel, anak pamanku, di depan para saksi yang telah menandatangani surat pembelian itu, dan di depan semua orang Yehuda yang ada di pelataran penjagaan itu.

32:13 Di depan mereka aku memerintahkan kepada Barukh, kataku:

32:14 Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Ambillah surat-surat ini, baik surat pembelian yang dimeteraikan itu maupun salinan yang terbuka ini, taruhlah semuanya itu dalam bejana tanah, supaya dapat tahan lama.

32:15 Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Rumah, ladang dan kebun anggur akan dibeli pula di negeri ini!

Tahulah aku, bahwa itu adalah firman Tuhan. Jadi aku membeli ladang [itu]. —Yeremia 32:8-9

Pada tahun 1929, ketika perekonomian Amerika Serikat ambruk, jutaan orang kehilangan segalanya. Namun, tidak begitu dengan Floyd Odlum. Ketika semua orang panik dan menjual saham mereka dengan harga murah, Odlum terlihat bodoh dengan membeli semua saham di tengah kondisi masa depan bangsa yang hancur berantakan. Namun, perspektif Odlum yang “bodoh” itu justru membuahkan hasil, karena tindakannya menjadi investasi yang menguntungkan selama puluhan tahun.

Allah memerintahkan Yeremia untuk melakukan investasi yang kelihatannya tidak masuk akal: “Belilah [ladang] yang di Anatot di daerah Benyamin itu” (Yer. 32:8). Mestinya itu bukan waktu yang baik untuk membeli ladang. Seluruh negeri sedang menuju kehancuran. “Tentara raja Babel mengepung Yerusalem” (ay.2), dan ladang mana pun yang dibeli Yeremia akan menjadi milik Babel. Orang bodoh mana yang akan berinvestasi ketika segala sesuatu terancam hilang?

Jawabannya, orang yang mendengarkan Allah, yaitu Pribadi yang merancang masa depan yang tak terbayangkan oleh siapa pun. “Sebab beginilah firman Tuhan semesta alam, Allah Israel: Rumah, ladang dan kebun anggur akan dibeli pula di negeri ini!” (ay.15). Allah melihat melampaui reruntuhan dan kehancuran. Dia berjanji akan membawa penebusan, penyembuhan, dan pemulihan. Investasi yang tidak masuk akal dalam hubungan dengan Allah atau pelayanan bagi-Nya tidaklah bodoh. Ketika Allah membimbing kita untuk melakukannya, itu justru merupakan tindakan yang paling bijak (dan kita perlu berdoa memohon hikmat untuk mengetahui bahwa memang Dialah yang memerintahkannya). Ketika Allah memimpin kita untuk melayani sesama, investasi kita yang terlihat “bodoh” menjadi tindakan yang bijaksana. —Winn Collier

WAWASAN

Investasi yang Tidak Masuk Akal

Kapan kamu merasa Allah meminta kamu melakukan investasi yang tidak masuk akal pada diri seseorang atau untuk suatu hal? Bagaimana tindakan itu menuntut kamu mempercayai Allah dengan cara yang tampak bodoh di mata orang?

Ya Allah, sungguh baik Engkau mengetahui masa depan, karena terkadang yang dapat kulihat hanyalah kehancuran dan bencana. Tunjukkanlah ke mana aku harus pergi dan membagikan hidupku.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 31–32; Matius 9:18-38

Mendengarkan di Surga

Rabu, 12 Januari 2022

Baca: 1 Raja-raja 8:37-45

8:37 Apabila di negeri ini ada kelaparan, apabila ada penyakit sampar, hama dan penyakit gandum, belalang, atau belalang pelahap, apabila musuh menyesakkan mereka di salah satu kota mereka, apabila ada tulah atau penyakit apapun,

8:38 lalu seseorang atau segenap umat-Mu Israel ini memanjatkan doa dan permohonan di rumah ini dengan menadahkan tangannya–karena mereka masing-masing mengenal apa yang merisaukan hatinya sendiri–

8:39 maka Engkaupun kiranya mendengarkannya di sorga, tempat kediaman-Mu yang tetap, dan Engkau kiranya mengampuni, bertindak, dan membalaskan kepada setiap orang sesuai dengan segala kelakuannya, karena engkau mengenal hatinya–sebab Engkau sajalah yang mengenal hati semua anak manusia, —

8:40 supaya mereka takut akan Engkau selama mereka hidup di atas tanah yang telah Kauberikan kepada nenek moyang kami.

8:41 Juga apabila seorang asing, yang tidak termasuk umat-Mu Israel, datang dari negeri jauh oleh karena nama-Mu, —

8:42 sebab orang akan mendengar tentang nama-Mu yang besar dan tentang tangan-Mu yang kuat dan lengan-Mu yang teracung–dan ia datang berdoa di rumah ini,

8:43 maka Engkaupun kiranya mendengarkannya di sorga, tempat kediaman-Mu yang tetap, dan Engkau kiranya bertindak sesuai dengan segala yang diserukan kepada-Mu oleh orang asing itu, supaya segala bangsa di bumi mengenal nama-Mu, sehingga mereka takut akan Engkau sama seperti umat-Mu Israel dan sehingga mereka tahu, bahwa nama-Mu telah diserukan atas rumah yang telah kudirikan ini.

8:44 Apabila umat-Mu keluar untuk berperang melawan musuhnya, ke arah manapun Engkau menyuruh mereka, dan apabila mereka berdoa kepada TUHAN dengan berkiblat ke kota yang telah Kaupilih dan ke rumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu,

8:45 maka Engkau kiranya mendengarkan di sorga doa dan permohonan mereka dan Engkau kiranya memberikan keadilan kepada mereka.

[Allah] mendengarkan di sorga doa dan permohonan mereka. —1 Raja-

Hingga usia delapan belas bulan, Maison belum pernah mendengar suara ibunya. Dokter memasangkan alat bantu dengarnya yang pertama, lalu ibunya, Lauryn, bertanya, “Kamu bisa mendengar suara Ibu, Nak?” Mata Maison berbinar-binar. “Hai, Sayang!” sapa Lauryn. Maison tersenyum dan mengoceh pelan. Sambil menangis, Lauryn tahu ia tengah menyaksikan suatu mukjizat. Ia melahirkan Maison secara prematur setelah tertembak tiga kali dalam perampokan bersenjata di rumahnya. Terlahir dengan berat hanya setengah kg, Maison dirawat secara intensif selama 158 hari dan sangat kecil kemungkinannya bertahan hidup, apalagi dapat mendengar.

Kisah yang sangat menyentuh itu mengingatkan saya pada Allah yang mendengar kita. Raja Salomo berdoa sungguh-sungguh agar Allah menyendengkan telinga-Nya, khususnya pada masa-masa sulit. Ketika “tidak ada hujan” (1Raj. 8:35), terjadi “kelaparan [dan] penyakit sampar,” malapetaka atau sakit penyakit (ay.37), perang (ay.44), bahkan dosa, kiranya Allah “mendengarkan di sorga doa dan permohonan mereka,” Salomo berdoa, dan “memberikan keadilan kepada mereka” (ay.45).

Dalam kebaikan-Nya, Allah merespons dengan janji yang masih menggetarkan hati kita. “Dan umatku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka” (2Taw. 7:14). Surga mungkin terasa jauh. Namun, Yesus menyertai semua yang percaya kepada-Nya. Allah mendengar doa-doa kita, dan Dia menjawabnya. —PATRICIA RAYBON

WAWASAN

Mendengarkan di Surga

Situasi sulit apa yang dapat kamu doakan hari ini, dengan mempercayai bahwa Allah mendengarnya di surga? Apakah pertolongan Allah yang dapat kamu syukuri karena Dia telah menjawab doa kamu?

Bapa Surgawi, terima kasih karena ketika aku berada dalam kesulitan dan pergumulan terberatku, Engkau mendengar seruan yang kupanjatkan dengan sungguh-sungguh.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 29–30; Matius 9:1-17

Manjakan Diri atau Mencari Damai?

Selasa, 11 Januari 2022

Baca: Yohanes 16:25-33

16:25 Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu.

16:26 Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa,

16:27 sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah.

16:28 Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa."

16:29 Kata murid-murid-Nya: "Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan.

16:30 Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah."

16:31 Jawab Yesus kepada mereka: "Percayakah kamu sekarang?

16:32 Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.

16:33 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia. —Yohanes 16:33

“MANJAKAN DIRIMU”. Begitulah bunyi iklan bak mandi air panas yang mencuri perhatian dan membuat saya berpikir. Belakangan ini saya dan istri sedang membicarakan keinginan kami memasang bak air panas . . . suatu saat nanti. Pasti asyik! Kecuali sesudah itu kami harus membersihkannya. Belum lagi tagihan listriknya. Dan . . . tahu-tahu sesuatu yang tadinya terkesan sebagai ide yang baik mulai terdengar mengerikan.

Ajakan untuk “memanjakan diri” sangat menarik, karena menjanjikan sesuatu yang kita inginkan: Kelegaan. Kenyamanan. Perasaan aman. Pelarian. Semua itu sangat menggoda dan memikat. Memang tidak salah merawat diri dengan beristirahat atau berlibur ke tempat indah. Namun, ada perbedaan antara melarikan diri dari kesukaran hidup dan mempercayai Allah di tengah segala kesukaran itu.

Dalam Yohanes 16, Yesus memberi tahu murid-murid-Nya bahwa babak berikutnya dalam hidup mereka akan menguji iman. “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan,” Yesus menyimpulkan. Kemudian Dia menambahkan janji ini, “Tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (ay.33). Yesus tidak ingin murid-murid-Nya menyerah dalam keputusasaan. Sebaliknya, Dia mengundang mereka mempercayai Dia, dan mengetahui kelepasan yang Dia sediakan: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu,” kata-Nya, “supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku” (ay.33).

Yesus tidak menjanjikan kehidupan yang bebas dari masalah dan derita. Namun, Dia memang berjanji, apabila kita percaya dan bersandar kepada-Nya, kita akan mengalami damai sejahtera yang lebih dalam dan lebih memuaskan daripada pelarian apa pun yang dunia tawarkan. —ADAM R. HOLZ

WAWASAN

Manjakan Diri atau Mencari Damai?

Apa saja ajakan “memanjakan diri” atau “pelarian” yang ditawarkan dunia di sekitar kamu? Menurut kamu, sejauh mana janji-janji dalam ajakan itu akan terpenuhi?

Bapa, tolong aku untuk mempercayai-Mu, supaya aku boleh mendapat damai sejahtera dan kelegaan di dalam-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 27–28; Matius 8:18-34

Sketsa Pengampunan

Senin, 10 Januari 2022

Baca: Mazmur 103:7-13

103:7 Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel.

103:8 TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.

103:9 Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.

103:10 Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,

103:11 tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia;

103:12 sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.

103:13 Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.

Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. —Mazmur 103:12

Etch a Sketch adalah mainan berbentuk kotak kecil warna merah yang ajaib. Waktu kecil, saya bisa berjam-jam memainkannya. Kalau salah satu tombolnya diputar, saya bisa membuat garis horisontal pada layarnya. Putar tombol lainnya dan simsalabim—garis vertikal pun muncul. Kalau kedua tombolnya diputar bersamaan, saya bisa membuat garis diagonal, lingkaran, dan pola-pola lain. Namun, yang paling ajaib adalah waktu saya membalikkan mainan itu, menggoyangnya sedikit, lalu menghadapkannya ke atas lagi. Layarnya kembali kosong, sehingga saya bisa membuat gambar baru.

Cara Allah mengampuni kita mirip dengan Etch a Sketch. Allah menghapus dosa-dosa kita, sehingga kita kembali bersih di hadapan-Nya. Walaupun kita masih mengingat kesalahan yang pernah kita perbuat, Allah memilih untuk mengampuni dan tidak lagi mengingatnya. Dia menghapus semua dosa kita dan tidak mengingatnya lagi. Ia tidak membalas kita setimpal dengan dosa dan kesalahan kita (Mzm. 103:10), melainkan memberikan kasih karunia-Nya melalui pengampunan. Saat meminta pengampunan Allah, kita dibersihkan dan terbentang kehidupan baru di hadapan kita. Kita terbebas dari rasa bersalah dan malu karena anugerah-Nya yang luar biasa bagi kita.

Pemazmur mengingatkan kita bahwa dosa kita telah dijauhkan-Nya dari kita sejauh timur dari barat (ay.12). Tak terbayangkan jauhnya! Dalam pandangan Allah, dosa kita tidak lagi melekat pada kita seperti cap atau noda yang membekas. Itulah alasan untuk bersukacita dan bersyukur kepada Allah atas kasih karunia dan kemurahan-Nya yang ajaib. —KATARA PATTON

WAWASAN

Sketsa Pengampunan

Menurut kamu, mengapa Allah tidak membalas kita setimpal dengan perbuatan kita? Bagaimana kamu berterima kasih kepada Allah karena telah menjauhkan segala dosa kamu?

Allah Mahakasih, terima kasih untuk pengampunan-Mu. Ingatkan aku bahwa Engkau tidak lagi mengingat semua pelanggaranku.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 25–26; Matius 8:1-17

Disucikan

Minggu, 9 Januari 2022

Baca: Titus 3:3-7

3:3 Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci.

3:4 Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia,

3:5 pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,

3:6 yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita,

3:7 supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita.

Kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus. —1 Korintus 6:11

Teman saya, Bill, menyebut kenalannya yang bernama Gerard, “sudah lama sekali jauh dari Allah”. Namun, setelah Bill bertemu Gerard dan menjelaskan kepadanya bagaimana kasih Allah telah menyediakan jalan bagi keselamatan kita, Gerard pun percaya kepada Tuhan Yesus. Sambil menangis, Gerard bertobat dari dosa-dosanya dan menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Setelah itu, Bill menanyakan perasaannya. Sambil mengusap air mata, Gerard menjawab dengan sederhana, “Seperti disucikan.”

Jawaban yang luar biasa! Persis itulah inti keselamatan yang dimungkinkan melalui iman kepada pengorbanan Yesus di kayu salib bagi kita. Dalam 1 Korintus 6, setelah memberi contoh bagaimana ketidaktaatan manusia kepada Allah mengakibatkan keterpisahan kita dengan-Nya, Paulus berkata, “Beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus” (ay.11). “Disucikan”, “dikuduskan”, “dibenarkan”—kata-kata yang menunjukkan bagaimana orang percaya diampuni dan dibenarkan di hadapan Allah.

Titus 3:4-5 berbicara lebih jauh tentang keajaiban dari keselamatan kita. “Allah, Juruselamat kita . . . telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali.” Dosa menjauhkan kita dari Allah, tetapi melalui iman kepada Yesus, hukuman dosa kita dihapus bersih. Kita menjadi ciptaan baru (2Kor. 5:17), mendapat jalan masuk kepada Bapa di surga (Ef. 2:18), dan disucikan dari segala dosa (1Yoh. 1:7). Dia sendiri menyediakan apa yang kita butuhkan untuk dapat disucikan. —Dave Branon

WAWASAN

Disucikan

Mengapa penting bagi kamu untuk disucikan dan dikuduskan oleh Tuhan Yesus? Bagi kamu, apakah artinya beriman kepada-Nya?

Tuhan Yesus, aku tahu aku telah berdosa kepada-Mu. Aku juga menyadari bahwa hukuman bagi dosaku adalah terpisah dari-Mu. Terima kasih untuk keselamatan yang Kauberikan. Terima kasih Engkau telah menarikku untuk mendekat kepada-Mu selamanya.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 23–24; Matius 7